PENDIDIKAN ANAK DI DALAM PANTI ASUHAN
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Dakwah
Dosen Pengampu : Drs. H. Nurbini, M.SI
Disusun oleh :
Zakiyah Mubarokah (101111049)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2011
PENDIDIKAN ANAK DI DALAM PANTI ASUHAN
I. PENDAHULUAN
Anak-anak merupakan tunas generasi muda mendatang yang menjadi tulang punggung bangsa dan pembangunan umat. Anak-anak adalah anugrah terindah dan sekaligus amanat Allah yang wajib dijaga, dididik, diayumi, dicintai, dan diberikan kasih sayang, tentunya itu sebagian besar dilakukan oleh orang tua didalam sebuah keluarga.
Keluarga adalah tempat naungan yang berisi ayah, ibu, dan anak yang mana didalam keluarga terdapat adanya kasih sayang, pengertian, perhatian, dan kepedulian dengan yang lainnya. Ayah dan ibu (orang tua) selalu mempengaruhi anaknya melalui interaksi langsung dengan keluarga maupun masyarakat. Selama perkembangan anak, tokoh orang tua itu umumnya lebih memberikan semangat kepada anaknya supaya bisa hidup mandiri, membiarkan anaknya mengenal lingkungan yang luas. Sikap ini berbeda dengan sikap ibu, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Sikap ibu di dalam rumah, memberikan perlindungan kepada anaknya, memberikan kenyamanan, memberikan kesejahteraan, memberikan kasih sayang, melakukan pekerjaan rumah mulai dari hal terkecil sampai yang terbesar, semua itu dilakukan dengan ikhlas. Sedangkan sikap ibu di luar rumah itu sebagai seorang wanita yang tangguh, yang bertanggung jawab atas perilaku anaknya dan akhlak yang diperbuat oleh anaknya. Kita sadari bersama bahwa keluarga adalah fondasi bangunan umat. Keluarga dapat menentukan bagaimana masa depan suatu umat dan bangsa. Keluarga pulalah yang menjadi ujung tombak dalam perbaikan dan pendidikan masyarakat.
Lingkungan keluarga adalah tempat pendidikan pertama bagi seseorang setelah dilahirkan, selain sekolah, lingkungan sekitar, serta masyarakat. Dalam teori nativisme, perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh fakto-faktor natives, yaitu faktor keturunan yang dibawa oleh individu pada waktu ia dilahirkan. Manusia dituntut untuk mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat. Tetapi kenyataan yang sering dijumpai adalah keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, kesosialan yang panas, kesusilaan yang rendah, keimanan serta ketakwaan yang dangkal.
Namun, ketika (orang tua) ayah atau ibu meninggal hal itu dapat mempengaruhi psikologis perkembangan anak. Didalam perkembangan anak mereka mengalami goncangan moral yang biasanya mereka mendapatkan kasih sayang, perlindungan, maupun materi semuanya sudah tidak dia rasakan lagi. Karena semua itu hanya dia dapatkan didalam keluarga atau orang tua. Perkembangan psikologis anak disaat tidak ada orang tua itu dia merasa hidupnya itu tidak ada gunanya lagi, dia selalu melakukan hal-hal yang bisa membuat dirinya senang walaupun itu dapat merusak dirinya sendiri, secara fisik dia seperti orang yang stress.
Namun, pada masyarakat menggerakan suatu lembaga yang diatas namakan panti asuhan yang mana dapat menampung puluhan bahkan ratusan anak yang mengalami goncangan psikis baik anak tersebut kehilangan ibu yang disebut piatu, sedangkan anak yang kehilangan ayah disebut yatim, dan anak yang kehilangan ayah maupun ibu yang disebut yatim piatu. Kemudian adanya anak-anak jalanan atau anak gelandangan bahkan mereka yang tidak mempunyai keluarga mereka juga dirawat oleh panti asuhan agar mereka mendapatkan perlindungan yang layak, kehidupan yang memadai bahkan psikologisnya yang baik tidak mengalami kesedihan akibat kehidupan sebelumnya yang tidak layak. Didalam suatu lembaga panti asuhan tersebut bertujuan memberikan kenyaman, perlindungan, dan kelayakan hidup baik dari segi materi maupun pendidikan yang pernah dia dapatkan dari orang tuanya. Dengan dilengkapi adanya sarana yang diperlukan oleh anak-anak panti asuhan tersebut sehingga dapat membangun kekreativan mereka didalam menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan demikian goncangan psikis yang terjadi pada anak tersebut dapat hilang secara perlahan-lahan dengan adanya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat tersebut.
II. DESKRIPSI KASUS
Perilaku anak-anak tersebut pada awal masuk panti asuhan sangat terganggu mentalnya. Karena faktor yang berbeda, seperti karena kesedihannya ditinggal oleh orang tua yang di sayanginya ataupun bahkan ada yang bersifat berandal yang masih melekat akibat pengaruh lingkungan yang buruk akibat mereka sering berkehidupan di jalanan. Namun, setelah mereka berkehidupan di panti asuhan akhlak mereka sudah mulai berkembang baik. Karena pengaruh dari pengasuh panti asuhan yang penyayang, seakan-akan mereka dianggap sebagai anak kandungnya. Begitu pula anak panti asuhan yang satu dengan yang lainnya yang saling menyayangi seakan keluarganya sendiri. Mereka saling bertukar pikiran apa yang sedang dialaminya. Sehingga psikologis pemikiran meraka dapat berkembang lagi karena mereka saling menyayangi dan mengasihi.
Kemudian dari konsep masyarakat yang ada mengenai proses belajar anak dalam bermasyarakat yaitu interaksi dan sosialisasi. Proses interaksi adalah proses anak itu mengenal lingkungan masyarakat sedangkan proses sosialisasi adalah proses yang bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peran sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Kemudian dalam proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka mata anak dalam melihat untuk berbagi macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari dalam tiap masyarakat. Proses-proses evolusi sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan menampakkan kepada perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. [2]
Manusia dapat memahami, merasakan dan mengalami sikap-sikap dan tindakan orang lain terhadap dirinya. Dengan kata lain, bahwa manusia dapat menyadari tentang bagaimana dan apakah peranan dirinya dilihat dari sudut pandang orang lain. Pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang mampu menanggapi corak pribadinya melalui persepsi orang lain dapat diartikan bahwa personalitas (kepribadian) manusia itu sebenarnya adalah cara berperilaku yang dipantulkan sesuai dengan perilaku orang lain. Segala perilaku dapat dibayangkan di dalam perasaan, pikiran, dan perbuatan sebagaimana orang lain merasa, berpikir, dan berbuat yang sama. Di sini tampak bahwa perilaku manusia itu harus di interprestasikan dalam pengertian interaksi sosial, peranan tanggapan, serta pengalaman yang dihubungkan dengan kegiatan hubungan antarpribadi dengan anggota kelompok masyarakat. Jadi, yang perlu diperhatikan dalam proses interaksi adalah faktor komunikasi, penghargaan akan adanya respons dari orang lain, bagaimana peranan tanggapan oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, serta simbol yang mendorongnya untuk melakukan respons.[3]
Dari semua itu sehingga anak-anak panti asuhan dapat membentuk jati dirinya dalam masyarakat yang santun, yang dapat gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan satu sama lain meskipun tidak pekerjaannya yang dapat menimbulkan sikap saling membantu dalam masyarakat. Dari situlah pengaruh masyarakat dalam pembentukan jati diri sangat besar. Karena lingkungan panti asuhan yang sangat santun dapat mempengaruhi anak-anak panti asuhan dan masyarakat panti asuhan yang sangat berakhlak mulia karena masyarakat tersebut sangat mendukung adanya panti asuhan. Saling menyayangi dan saling mengasihi sehingga anak-anak berpengaruh menjadi anak-anak yang bersifat sosial, saling menyayangi dan mengasihi.
Tali ikatan yang terbaik antara satu sama lain dalam suatu masyarakat, adalah ikatan yang dibangun atas dasar perasaan dan cinta yang sesungguhnya. Keharmonisan yang ada antara dua jiwa akan membuat mereka berpadu dalam dunia cinta dan persatuan. Dari sinilah dasar kebahagiaan yang kekal itu tumbuh. Agar kebahagiaan ini tetap terpelihara, masing-masing orang harus menyingkirkan berbagai perselisihan dan berkompromi tentang berbagai persoalan, mengenai apa yang mesti mereka tolak dengan sepantasnya. Persahabatan yang paling bernilai adalah persahabatan tidak dibangun atas dasar kepentingan pribadi tetapi di atas kepentingan bersama dengan cinta, persaudaraan, dan mampu memuaskan jiwa manusia yang membutuhkan cinta dan kesenangan.[4]
III. LANDASAN TEORI
Pendidikan dalam panti asuhan di bagi menjadi dua:
a. Formal: Anak-anak di panti asuhan melaksanakan pendidikan formalnya di dalam madrasah atau sekolah yang terdapat pelajaran umum. Mereka tidak hanya melakukan pendidikan tentang kehidupan akhirat saja namun dia juga melekukan pembelajaran tentang ilmiah juga. Di dalam pendidikan tersebut yang dapat diambil oleh anak-anak dapat mengatur perilaku atau tatanan moral (akhlak) untuk kehidupannya, sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang berbahaya dan dilarang oleh agama.
Pendidikan formal sangat dibutuhkan oleh anak karena pendidikan berpengaruh terhadap kualitas serta kuantitas usaha belajar anak, dan bahwa seluruh staf pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing-masing anak didiknya. Oleh karena itu, pelayanan pendidikan formal tersebar secara luas, dengan melibatkan tenaga pendidik yang professional dan handal. Tenaga-tenaga pengajar yang secara rutin berhubungan dengan para siswa, memegang peran kunci dalam proses pendidikan formal. Mereka dapat menyisipkan aneka unsur pendidikan dalam pelajaran, dapat memberikan bimbingan kelompok, bahkan dapat menyelenggarakan wawancara konseling. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan pendidikan formal dapat berjalan kondusif dan lancar.[5]
b. Informal: Di dalam panti asuhan mangadakan pengajian, baik mengaji Al-Qur’an maupun kitab. Kemudian di dalam panti asuhan tersebut juga diadakan kegiatan rebana yang dilaksanakan setiap malam Senin. Anak-anak panti asuhan juga diwajibkan shalat tahajud. Karena shalat tahajud untuk kepentingan mereka sendiri agar diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam melakukan sesuatu yang di Ridhai-Nya.
Hal itu dilakukan oleh anak-anak panti asuhan karena pengasuh panti asuhan tersebut selalu memberi contoh baik bagi anak-anak panti asuhan. Seperti halnya pada saat beliau masih muda meskipun beliau melaksanakan pendidikan formal namun beliau juga melaksanakan pendidikan agama yang bersifat informal. Beliau menceritakan kepada anak-anak panti asuhan bahwa sejak muda apa yang dilakukan anak-anak panti asuhan tersebut juga dilakukannya.
Dalam latar belakang adanya agama tersebut anak-anak panti asuhan ditekankan harus memiliki empat komponen unsur agama:
a.Emosi keagamaan disini berarti yang menyebabkan manusia menjadi religius.
b.Sistem kepercayaan disini berarti mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia tentang sifat-sifat Allah serta tentang wujud dari alam gaib.
c.Sistem upacara religius disini berarti yang bertujuan mencari hubungan seseorang tersebut dengan Allah.
d.Kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem kepercayaan dan yang melakukan upacara-upacara religius.[6]
Pengasuh penti asuhan berfikir evaluativ yaitu berfikir kritis, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dan menilai menurut kriteria tertentu.[7]
Kemudian beliau berpandangan bahwa setiap manusia harus mendapatkan penghargaan yang setinggi-tingginya, bukan karena berbagai prestasi yang mereka capai, melainkan karena mereka adalah pribadi yang berdaulat dan memiliki hak-hak asasi. Manusia adalah ciptaan Allah yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada-Nya dan tidak dapat diperdaya oleh manusia lain, yang sama-sama ciptaan Allah. Keyakinaaan ini berakar dalam suatu pandangan religius tentang hubungan antara Allah dan manusia serta hubungan manusia dengan manusia. Selanjutnya, cara yang akhirnya lebih dapat di andalkan dalam menghadapi dan mengatasi kebanyakan persoalan hidup adalah menggunakan daya berpikir yang diberikan oleh Sang Pencipta, dari pada mengandalkan kemahiran dan kekuatan istimewa alam gaib. Cara yang akhirnya lebih produktif ialah mencari sebab musabab timbulnya persoalan, mempertimbangkan sikap serta tindakan yang dapat diambil, dan mengantisipasi segala konsekuensi yang mungkin timbul.[8]
IV. SOLUSI ATAU ALTERNATIV DAKWAH
Keluarga merupakan fondasi bangunan anak, dan juga keluaraga merupakan pendidikan pertama yang diketahui oleh anak. Keluarga dapat menentukan bagaimana masa depan suatu umat dan bangsa. Keluargalah yang menjadi ujung tombak dalam perbaikan dan pendidikan. Karena didalam keluarga terdapat orang tua yang selalu memberikan kasih sayang, pengertian dan perhatian kepada anak-anak nya.
Dan jika anak anak-anak tersebut sudah tidak mempunyai orang tua mereka sangat kehilangan sekali dan faktor psikisnya sangat terpukul. Dan mental maupun fisik mereka sangat terpengaruh dan dapat menjadikan depresi yang berat jika selau difikirkan karena mereka tidak ikhlas. Karena terjadi itu maka anak tersebut akan menimbulkan masalah yang dihadapinya. Seperti halnya tentang pendidikan, dia sudah tidak mendapatkan lagi pendidikan yang layak karena faktor ekonomi yang tidak memadai.
Jika itu terjadi pada anak-anak maka dibangunlan panti asuhan. Panti asuhan merupakan alternativ bagi anak-anak yang kurang mampu dan anak-anak yang tidak mempunyai keluarga. Disinilah panti asuhan dapat menjadi pengganti keluarga yang semula mereka miliki. Panti asuhan tersebut sangat nyaman dan bermanfaat bagi anak-anak tersebut, karena untuk membangun kembali semangat hidup mereka yang semula pudar menjadi bangkit kembali karena mereka mempunyai keluarga baru seperti halnya orang tuanya dulu yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya.
Kelebihan anak-anak panti asuhan setelah diasuh oleh pihak panti asuhan adalah semua anak-anak panti asuhan mendapatkan perlindungan dari pengasuh yang sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga mendapatkan tempat tinggal yang layak tanpa adanya biaya sedikitpun. Dan pendidikan formal maupun non formal yang memadai dapat mereka lakukan dengan baik. Namun, disisi lain ada juga kekurangan atau hambatan, yang meliputi, seperti mengatasi anak-anak yang bandel atau nakal. Pihak panti asuhan mengatasinya dengan memberikan hukuman yang dilakukan itu yang bersifat mendidik untuk anak-anak agar anak-anak dapat mengetahui dan tidak mengulanginya lagi. Seperti, anak-anak yang tidak melaksanakan sholat berjamaah dihukum membersihkan kamar mandi atau membersihkan kebun. Karena kebersihan merupakan sunnah Rasulullah. Atau hukuman tersebut dapat berupa menghafalkan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, itu dilakukan supaya anak-anak selalu membaca dan mengingat bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah.
V. PENUTUP
Suasana panti asuhan yang bersih akan menciptakan anak-anak panti asuhan betah tinggal di panti asuhan. Karena pengasuh yang selalu mencerminkan kebersihan dalam panti asuhan. Kemudian sikap kedisiplinan yang selalu diterapkan sehingga anak-anak panti asuhan selalu melakukan pekerjaan tepat waktu, seperti sholat berjama’ah selalu tepat waktu, belajar, dan gotong royong membersihkan panti asuhan.
Komentar kritis tentang kehidupan panti asuhan: sikap kekeluargaan yang diterapkan dalam kehidupan panti asuhan yang sangat melekat pada semua yang ada di panti asuhan termasuk pengasuh. Mereka saling menyayangi, mencintai, mengasihi, dan tolong menolong. Karena mereka hidup dalam satu keluarga yang utuh pengganti keluarga mereka sebelumnya yang serba kekurangan dalam hal ekonomi maupun kasih sayang. Mereka hidup tanpa adanya perselisihan dan tanpa pertengkaran, jika manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan nalurinya dengan suatu cara yang baik, di mana sifat-sifat terpuji dan akhlak-akhlak yang mulia dapat berkembang, ia harus menggunakan akalnya dalam setiap segi kehidupan. Sebab hanya akal yang mampu membimbing manusia dan bukan naluri. Akallah yang mencegah naluri dari kemubaziran dan kejumudan. Ia adalah unsur yang membuat kita dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Kekuatan akal, yang memiliki tugas penting dalam mengembangkan kepribadian manusia, adalah kemmpuan untuk melindungi kita dari kesesatan dan memberi kita ketelitian dalam berbagai urusan.[9] Itu yang selau ditanamkan pengasuh panti asuhan pada anak-anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar