Sabtu, 24 Desember 2011

observasi psikologi agama

PENDIDIKAN ANAK DI DALAM PANTI ASUHAN  

Makalah

Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Psikologi Dakwah
Dosen Pengampu : Drs. H. Nurbini, M.SI

 






Disusun oleh :

Zakiyah Mubarokah (101111049)

FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2011
PENDIDIKAN ANAK DI DALAM PANTI ASUHAN

I.                   PENDAHULUAN

Anak-anak merupakan tunas generasi muda mendatang yang menjadi tulang punggung bangsa dan pembangunan umat. Anak-anak adalah anugrah terindah dan sekaligus amanat Allah yang wajib dijaga, dididik, diayumi, dicintai, dan diberikan kasih sayang, tentunya itu sebagian besar dilakukan oleh orang tua didalam sebuah keluarga.
Keluarga adalah tempat naungan yang berisi ayah, ibu, dan anak yang mana didalam keluarga terdapat adanya kasih sayang, pengertian, perhatian, dan kepedulian dengan yang lainnya. Ayah dan ibu (orang tua) selalu mempengaruhi anaknya melalui interaksi langsung dengan keluarga maupun masyarakat. Selama perkembangan anak, tokoh orang tua itu umumnya lebih memberikan semangat kepada anaknya supaya bisa hidup mandiri, membiarkan anaknya mengenal lingkungan yang luas. Sikap ini berbeda dengan sikap ibu, baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Sikap ibu di dalam rumah, memberikan perlindungan kepada anaknya, memberikan kenyamanan, memberikan kesejahteraan, memberikan kasih sayang, melakukan pekerjaan rumah mulai dari hal terkecil sampai yang terbesar, semua itu dilakukan dengan ikhlas. Sedangkan sikap ibu di luar rumah itu sebagai seorang wanita yang tangguh, yang bertanggung jawab atas perilaku anaknya dan akhlak yang diperbuat oleh anaknya. Kita sadari bersama bahwa keluarga adalah fondasi bangunan umat. Keluarga dapat menentukan bagaimana masa depan suatu umat dan bangsa. Keluarga pulalah yang menjadi ujung tombak dalam perbaikan dan pendidikan masyarakat.
Lingkungan keluarga adalah tempat pendidikan pertama bagi seseorang setelah dilahirkan, selain sekolah, lingkungan sekitar, serta masyarakat. Dalam teori nativisme, perkembangan manusia itu akan ditentukan oleh fakto-faktor natives, yaitu faktor keturunan yang dibawa oleh individu pada waktu ia dilahirkan. Manusia dituntut untuk mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat. Tetapi kenyataan yang sering dijumpai adalah keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, kesosialan yang panas, kesusilaan yang rendah, keimanan serta ketakwaan yang dangkal.
Namun, ketika (orang tua) ayah atau ibu meninggal hal itu dapat mempengaruhi psikologis perkembangan anak. Didalam perkembangan anak mereka mengalami goncangan moral yang biasanya mereka mendapatkan kasih sayang, perlindungan, maupun materi semuanya sudah tidak dia rasakan lagi. Karena semua itu hanya dia dapatkan didalam keluarga atau orang tua. Perkembangan psikologis anak disaat tidak ada orang tua itu dia merasa hidupnya itu tidak ada gunanya lagi, dia selalu melakukan hal-hal yang bisa membuat dirinya senang walaupun itu dapat merusak dirinya sendiri, secara fisik dia seperti orang yang stress.
Namun, pada masyarakat menggerakan suatu lembaga yang diatas namakan panti asuhan yang mana dapat menampung puluhan bahkan ratusan anak yang mengalami goncangan psikis baik anak tersebut kehilangan ibu yang disebut piatu, sedangkan anak yang kehilangan ayah disebut yatim, dan anak yang kehilangan ayah maupun ibu yang disebut yatim piatu. Kemudian adanya anak-anak jalanan atau anak gelandangan bahkan mereka yang tidak mempunyai keluarga mereka juga dirawat oleh panti asuhan agar mereka mendapatkan perlindungan yang layak, kehidupan yang memadai bahkan psikologisnya yang baik tidak mengalami kesedihan akibat kehidupan sebelumnya yang tidak layak. Didalam suatu lembaga panti asuhan tersebut bertujuan memberikan kenyaman, perlindungan, dan kelayakan hidup baik dari segi materi maupun pendidikan yang pernah dia dapatkan dari orang tuanya. Dengan dilengkapi adanya sarana yang diperlukan oleh anak-anak panti asuhan tersebut sehingga dapat membangun kekreativan mereka didalam menghasilkan sesuatu yang berguna. Dengan demikian goncangan psikis yang terjadi pada anak tersebut dapat hilang secara perlahan-lahan dengan adanya kegiatan-kegiatan yang bermanfaat tersebut.

II.                DESKRIPSI KASUS
Perilaku anak-anak tersebut pada awal masuk panti asuhan sangat terganggu mentalnya. Karena faktor yang berbeda, seperti karena kesedihannya ditinggal oleh orang tua yang di sayanginya ataupun bahkan ada yang bersifat berandal yang masih melekat akibat pengaruh lingkungan yang buruk akibat mereka sering berkehidupan di jalanan. Namun, setelah mereka  berkehidupan di panti asuhan akhlak mereka sudah mulai berkembang baik. Karena pengaruh dari pengasuh panti asuhan yang penyayang, seakan-akan mereka dianggap sebagai anak kandungnya. Begitu pula anak panti asuhan yang satu dengan yang lainnya yang saling menyayangi seakan keluarganya sendiri. Mereka saling bertukar pikiran apa yang sedang dialaminya. Sehingga psikologis pemikiran meraka dapat berkembang lagi karena mereka saling menyayangi dan mengasihi.
Kemudian dari konsep masyarakat yang ada mengenai proses belajar anak dalam bermasyarakat yaitu interaksi dan sosialisasi. Proses interaksi adalah proses anak itu mengenal lingkungan masyarakat sedangkan proses sosialisasi adalah proses yang bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peran sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.[1]
Kemudian dalam proses evolusi sosial budaya yang dianalisa secara detail akan membuka mata anak dalam melihat untuk berbagi macam proses perubahan yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari dalam tiap masyarakat. Proses-proses evolusi sosial budaya yang dipandang seolah-olah dari jauh hanya akan menampakkan kepada perubahan-perubahan besar yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. [2]
Manusia dapat memahami, merasakan dan mengalami sikap-sikap dan tindakan orang lain terhadap dirinya. Dengan kata lain, bahwa manusia dapat menyadari tentang bagaimana dan apakah peranan dirinya dilihat dari sudut pandang orang lain. Pandangan bahwa manusia adalah makhluk yang mampu menanggapi corak pribadinya melalui persepsi orang lain dapat diartikan bahwa personalitas (kepribadian) manusia itu sebenarnya adalah cara berperilaku yang dipantulkan sesuai dengan perilaku orang lain. Segala perilaku dapat dibayangkan di dalam perasaan, pikiran, dan perbuatan sebagaimana orang lain merasa, berpikir, dan berbuat yang sama. Di sini tampak bahwa perilaku manusia itu harus di interprestasikan dalam pengertian interaksi sosial, peranan tanggapan, serta pengalaman yang dihubungkan dengan kegiatan hubungan antarpribadi dengan anggota kelompok masyarakat. Jadi, yang perlu diperhatikan dalam proses interaksi adalah faktor komunikasi, penghargaan akan adanya respons dari orang lain, bagaimana peranan tanggapan oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain, serta simbol yang mendorongnya untuk melakukan respons.[3]   
Dari semua itu sehingga anak-anak panti asuhan dapat membentuk jati dirinya dalam masyarakat yang santun, yang dapat gotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan satu sama lain meskipun tidak pekerjaannya yang dapat menimbulkan sikap saling membantu dalam masyarakat. Dari situlah pengaruh masyarakat dalam pembentukan jati diri sangat besar. Karena lingkungan  panti asuhan yang sangat santun dapat mempengaruhi anak-anak panti asuhan dan masyarakat panti asuhan yang sangat berakhlak mulia karena masyarakat tersebut sangat mendukung adanya panti asuhan. Saling menyayangi dan saling mengasihi sehingga anak-anak berpengaruh menjadi anak-anak yang bersifat sosial, saling menyayangi dan mengasihi.
Tali ikatan yang terbaik antara satu sama lain dalam suatu masyarakat, adalah ikatan yang dibangun atas dasar perasaan dan cinta yang sesungguhnya. Keharmonisan yang ada antara dua jiwa akan membuat mereka berpadu dalam dunia cinta dan persatuan. Dari sinilah dasar kebahagiaan yang kekal itu tumbuh. Agar kebahagiaan ini tetap terpelihara, masing-masing orang harus menyingkirkan berbagai perselisihan dan berkompromi tentang berbagai persoalan, mengenai apa yang mesti mereka tolak dengan sepantasnya. Persahabatan yang paling bernilai adalah persahabatan tidak dibangun atas dasar kepentingan pribadi tetapi di atas kepentingan bersama dengan cinta, persaudaraan, dan mampu memuaskan jiwa manusia yang membutuhkan cinta dan kesenangan.[4]

III.             LANDASAN TEORI

Pendidikan dalam panti asuhan di bagi menjadi dua:
a.       Formal: Anak-anak di panti asuhan melaksanakan pendidikan formalnya di dalam madrasah atau sekolah yang terdapat pelajaran umum. Mereka tidak hanya melakukan pendidikan tentang kehidupan akhirat saja namun dia juga melekukan pembelajaran tentang ilmiah juga. Di dalam pendidikan tersebut yang dapat diambil oleh anak-anak dapat mengatur perilaku atau tatanan moral (akhlak) untuk kehidupannya, sehingga dapat terhindar dari hal-hal yang berbahaya dan dilarang oleh agama.
Pendidikan formal sangat dibutuhkan oleh anak karena pendidikan berpengaruh terhadap kualitas serta kuantitas usaha belajar anak, dan bahwa seluruh staf pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing-masing anak didiknya. Oleh karena itu, pelayanan pendidikan formal tersebar secara luas, dengan melibatkan tenaga pendidik yang professional dan handal. Tenaga-tenaga pengajar yang secara rutin berhubungan dengan para siswa, memegang peran kunci dalam proses pendidikan formal. Mereka dapat menyisipkan aneka unsur pendidikan dalam pelajaran, dapat memberikan bimbingan kelompok, bahkan dapat menyelenggarakan wawancara konseling. Hal itu dilakukan agar pelaksanaan pendidikan formal dapat berjalan kondusif dan lancar.[5]
b.      Informal: Di dalam panti asuhan mangadakan pengajian, baik mengaji Al-Qur’an maupun kitab. Kemudian di dalam panti asuhan tersebut juga diadakan kegiatan rebana yang dilaksanakan setiap malam Senin. Anak-anak panti asuhan juga diwajibkan shalat tahajud. Karena shalat tahajud untuk kepentingan mereka sendiri agar diberi kemudahan oleh Allah SWT dalam melakukan sesuatu yang di Ridhai-Nya.
Hal itu dilakukan oleh anak-anak panti asuhan karena pengasuh panti asuhan tersebut selalu memberi contoh baik bagi anak-anak panti asuhan. Seperti halnya pada saat beliau masih muda meskipun beliau melaksanakan pendidikan formal namun beliau juga melaksanakan pendidikan agama yang bersifat informal. Beliau menceritakan kepada anak-anak panti asuhan bahwa sejak muda apa yang dilakukan anak-anak panti asuhan tersebut juga dilakukannya.
Dalam latar belakang adanya agama tersebut anak-anak panti asuhan ditekankan harus memiliki empat komponen unsur agama:
a.Emosi keagamaan disini berarti yang menyebabkan manusia menjadi religius.
b.Sistem kepercayaan disini berarti mengandung keyakinan serta bayangan-bayangan manusia tentang sifat-sifat Allah serta tentang wujud dari alam gaib.
c.Sistem upacara religius disini berarti yang bertujuan mencari hubungan seseorang tersebut dengan Allah.
d.Kelompok-kelompok religius atau kesatuan-kesatuan sosial yang menganut sistem kepercayaan dan yang melakukan upacara-upacara religius.[6]     
Pengasuh penti asuhan berfikir evaluativ yaitu berfikir kritis, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dan menilai menurut kriteria tertentu.[7]
Kemudian beliau berpandangan bahwa setiap manusia harus mendapatkan penghargaan yang setinggi-tingginya, bukan karena berbagai prestasi yang mereka capai, melainkan karena mereka adalah pribadi yang berdaulat dan memiliki hak-hak asasi. Manusia adalah ciptaan Allah yang bertanggung jawab sepenuhnya kepada-Nya dan tidak dapat diperdaya oleh manusia lain, yang sama-sama ciptaan Allah. Keyakinaaan ini berakar dalam suatu pandangan religius tentang hubungan antara Allah dan manusia serta hubungan manusia dengan manusia. Selanjutnya, cara yang akhirnya lebih dapat di andalkan dalam menghadapi dan mengatasi kebanyakan persoalan hidup adalah menggunakan daya berpikir yang diberikan oleh Sang Pencipta, dari pada mengandalkan kemahiran dan kekuatan istimewa alam gaib. Cara yang akhirnya lebih produktif ialah mencari sebab musabab timbulnya persoalan, mempertimbangkan sikap serta tindakan yang dapat diambil, dan mengantisipasi segala konsekuensi yang mungkin timbul.[8]


IV.             SOLUSI ATAU ALTERNATIV DAKWAH

Keluarga merupakan fondasi bangunan anak, dan juga keluaraga merupakan pendidikan pertama yang diketahui oleh anak. Keluarga dapat menentukan bagaimana masa depan suatu umat dan bangsa. Keluargalah yang menjadi ujung tombak dalam perbaikan dan pendidikan. Karena didalam keluarga terdapat orang tua yang selalu memberikan kasih sayang, pengertian dan perhatian kepada anak-anak nya.
Dan jika anak anak-anak tersebut sudah tidak mempunyai orang tua mereka sangat kehilangan sekali dan faktor psikisnya sangat terpukul. Dan mental maupun fisik mereka sangat terpengaruh dan dapat menjadikan depresi yang berat jika selau difikirkan karena mereka tidak ikhlas. Karena terjadi itu maka anak tersebut akan menimbulkan masalah yang dihadapinya. Seperti halnya tentang pendidikan, dia sudah tidak mendapatkan lagi pendidikan yang layak karena faktor ekonomi yang tidak memadai.
Jika itu terjadi pada anak-anak maka dibangunlan panti asuhan. Panti asuhan merupakan alternativ bagi anak-anak yang kurang mampu dan anak-anak yang tidak mempunyai keluarga. Disinilah panti asuhan dapat menjadi pengganti keluarga yang semula mereka miliki. Panti asuhan tersebut sangat nyaman dan bermanfaat bagi anak-anak tersebut, karena untuk membangun kembali semangat hidup mereka yang semula pudar menjadi bangkit kembali karena mereka mempunyai keluarga baru seperti halnya orang tuanya dulu yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya.
Kelebihan anak-anak panti asuhan setelah diasuh oleh pihak panti asuhan adalah semua anak-anak panti asuhan mendapatkan perlindungan dari pengasuh yang sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Mereka juga mendapatkan tempat tinggal yang layak tanpa adanya biaya sedikitpun. Dan pendidikan formal maupun non formal yang memadai dapat mereka lakukan dengan baik. Namun, disisi lain ada juga kekurangan atau hambatan, yang meliputi, seperti mengatasi anak-anak yang bandel atau nakal. Pihak panti asuhan mengatasinya dengan memberikan hukuman yang dilakukan itu yang bersifat mendidik untuk anak-anak agar anak-anak dapat mengetahui dan tidak mengulanginya lagi. Seperti, anak-anak yang tidak melaksanakan sholat berjamaah dihukum membersihkan kamar mandi atau membersihkan kebun. Karena kebersihan merupakan sunnah Rasulullah. Atau hukuman tersebut dapat berupa menghafalkan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, itu dilakukan supaya anak-anak selalu membaca dan mengingat bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah.

V.                PENUTUP

Suasana panti asuhan yang bersih akan menciptakan anak-anak panti asuhan betah tinggal di panti asuhan. Karena pengasuh yang selalu mencerminkan kebersihan dalam panti asuhan. Kemudian sikap kedisiplinan yang selalu diterapkan sehingga anak-anak panti asuhan selalu melakukan pekerjaan tepat waktu, seperti sholat berjama’ah selalu tepat waktu, belajar, dan gotong royong membersihkan panti asuhan.
Komentar kritis tentang kehidupan panti asuhan: sikap kekeluargaan yang diterapkan dalam kehidupan panti asuhan yang sangat melekat pada semua yang ada di panti asuhan termasuk pengasuh. Mereka saling menyayangi, mencintai, mengasihi, dan tolong menolong. Karena mereka hidup dalam satu keluarga yang utuh pengganti keluarga mereka sebelumnya yang serba kekurangan dalam hal ekonomi maupun kasih sayang. Mereka hidup tanpa adanya perselisihan dan tanpa pertengkaran, jika manusia dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan nalurinya dengan suatu cara yang baik, di mana sifat-sifat terpuji dan akhlak-akhlak yang mulia dapat berkembang, ia harus menggunakan akalnya dalam setiap segi kehidupan. Sebab hanya akal yang mampu membimbing manusia dan bukan naluri. Akallah yang mencegah naluri dari kemubaziran dan kejumudan. Ia adalah unsur yang membuat kita dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Kekuatan akal, yang memiliki tugas penting dalam mengembangkan kepribadian manusia, adalah kemmpuan untuk melindungi kita dari kesesatan dan memberi kita ketelitian dalam berbagai urusan.[9] Itu yang selau ditanamkan pengasuh panti asuhan pada anak-anak.




                [1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000). hlm. 229
                [2] Ibid, hlm. 235
[3] Faizah dan Lalu Muchsin Effendi, Psikologi Dakwah, (Jakarta: Prenada Media, 2006). hlm. 145-146
                [4] Sayyid Mujtaba Musavi Lari, Psikologi Islam, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995). hlm.15-16
                [5] W.S.Winkel dan M.M.Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: Media Abadi, 2004), hlm.103
                [6] Emmy Indrayawati, Antropologi, (Surakarta: Putra Nugraha, 2009),  hlm 70
                [7] Jaluddin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 69
                [8] W.S.Winkel dan  M.M.Sri Hastuti, Op.Cit, hlm. 212
                [9] Sayyid Mujtaba Musavi Lari, Op.Cit, hlm. 151

KONVERSI AGAMA

KONVERSI DALAM AGAMA
I.                   PENDAHULUAN
Konversi agama secara umum dapat diartikan dengan berubah agama ataupun masuk agama. Konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.
Dari definisi tersebut dapat dibayangkan betapa sukarnya mengukur dan meneliti fakta konversi tersebut. Sama halnya dengan fakta-fakta psikis lainnya. Kita tidak dapat meneliti secara langsung proses terjadinya konversi tersebut, dan keadaan jiwa apa yang memungkinkan terjadinya peralihan keyakinan secara mendadak itu.[1]
II.                PERMASALAHAN
a.       Pengertian konversi agama
b.      Faktor yang menyebabkan terjadinya konversi agama
c.       Macam-macam konversi agama
d.      Proses konversi agama
III.             PEMBAHASAN
a.       Pengertian Konversi Agama
Konversi agama menurut etimologi konversi berasal dari kata lain “Conversio” yang berarti: tobat, pindah, dan berubah (agama). Selanjutnya, kata tersebut dipakai dalam kata Inggris Conversion yang mengandung pengertian: berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke agama lain (change from one state, or from one religion, to another).
Berdasarkan kata-kata tersebut dapat diartikan bahwa konversi agama mengandung pengertian: bertobat, berubah agama, berbalik pendirian terhadap ajaran agama atau masuk ke dalam agama.[2]


Konversi agama menurut terminologi, menurut pengertian ini dikemukakan oleh:
1.    Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.[3]
2.    W.H.Clark mendefinisikan konversi agama merupakan sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindakan agama.[4]
3.    William James mengatakan, konversi agama merupakan berubah, digenerasikan, untuk menerima kesukaan, untuk menjalani pengalaman beragama, untuk mendapatkan kepastian adalah banyaknya ungkapan pada proses baik itu berangsur-angsur atau tiba-tiba, yang dilakukan secara sadar dan terpisah-pisah, kurang bahagia dalam konsekuensi penganutnya yang berlandaskan kenyataan beragama.
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan, bahwa konversi agama merupakan:
1.      Adanya perubahan arah pandangan dan keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya.
2.      Perubahan yang terjadi dipengaruhi kondisi kejiwaan, sehingga perubahan tersebut dapat terjadi secara berproses atau secara mendadak.
3.      Perubahan tersebut tidak hanya berlaku bagi pemindahan kepercayaan dari satu agama ke agama lain, akan tetapi juga termasuk perubahan pandangan terhadap agama yang dianutnya sendiri.
4.      Selain faktor kejiwaan dan kondisi lingkungan, maka perubahan itu pun disebabkan oleh faktor petunjuk dari Yang Maha Kuasa.[5]
b.      Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Konversi Agama
William James dan Max Heirich mengemukakan pendapat bahwa konversi agama disebabkan faktor yang cenderung didominasi oleh lapangan ilmu yang mereka tekuni.[6]
1.    Para ahli agama menyatakan, bahwa yang menjadi faktor pendorong terjadinya konversi agama adalah petunjuk Illahi. Pengaruh supernatural berperan secara dominan dalam proses terjadinya konversi agama pada diri seseorang atau kelompok.[7]Namun demikian, terasa sulit untuk membuktikan secara empiris tentang faktor ini, walau kita mempercayai bahwa petunjuk Illahi memegang peran penting dalam perubahan perilaku keagamaan seseorang. Oleh karena itu, perlu ditelusuri faktor-faktor lain, baik itu dilihat dari latar belakang sosiologis, faktor kejiwaan maupun pendidikan yang didapatkan.[8]  
2.    Para ahli sosiologi berpendapat, bahwa yang menyebabkan terjadinya konversi agama adalah pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang mendorong terjadinya konversi itu terdiri dari adanya berbagai faktor lain:
-          Pengaruh hubungan antar pribadi baik pergaulan yang bersifat keagamaan maupun nonagama (kesenian, ilmu pengetahuan ataupun bidang kebudayaan).
-          Pengaruh kebiasaan yang rutin. Pengaruh ini dapat mendorong seseorang atau kelompok untuk berubah kepercayaan jika dilakukan seacara rutin hingga terbiasa, misalnya: menghadiri upacara keagamaan, ataupun pertemuan yang bersifat keagamaan baik pada lembaga formal, ataupun nonformal.
-          Pengaruh anjuran atau propaganda dari orang-orang yang dekat, misalnya: karib, keluarga, dan famili.
-          Pengaruh pemimpin keagamaan.
-          Pengaruh perkumpulan berdasarkan hobi.
-          Pengaruh kekuasaan pemimpin.[9]
3.    Para ahli psikologi menyebutkan faktor psikologis yang menyebabkan terjadinya konversi. Sebagai contoh adalah tekanan batin, maka akan mendorong seseorang untuk mencari jalan keluar, yaitu ketenangan batin, atau jiwa yang kosong dan tidak berdaya kemudian mencari perlindungan kekuatan lain yang mampu memberikan kehidupan jiwa yang tenang dan tentram. Dengan demikian, terjadinya konversi tidak hanya didorong oleh faktor luar saja, tapi juga disebabkan faktor intern.
Yang dapat dikategorikan sebagai faktor intern antara lain:
a.       Kepribadian.
Secara psikologis tipe kepribadian tertentu akan mempengaruhi kehidupan jiwa seseorang. Dalam penelitian William James ditemukan bahwa tipe melankolis yang memiliki kerentanan perasaan lebih mendalam dapat menyebabkan terjadinya konversi dalam dirinya.
b.      Pembawaan.
Menurut penelitian Guy E. Swanson ditemukan semacam kecenderungan urutan kelahiran yang mempengaruhi konversi agama. Anak sulung dan anak bungsu biasanya tidak mengalami tekanan batin. Sementara anak yang dilahirkan pada urutan tengah atau antara sulung dan bungsu sering mengalami stres jiwa.
Sedangkan yang termasuk dalam faktor ekstern antara lain:
a.       Faktor Keluarga.
Di antara yang termasuk dalam faktor ini adalah:
-        Kerekatan keluarga
-        Ketidakserasian
-        Berlainan agama
-        Kesepian
-        Kesulitan seksual
-        Kurang mendapatkan pengakuan kaum kerabat
Kondisi demikian menyebabkan batin seseorang akan mengalami tekanan batin sehingga sering terjadi konversi agama dalam usahanya untuk meredakan tekanan batin yang menimpa dirinya.
b.      Faktor lingkungan tempat tinggal.
Yang termasuk dalam faktor ini adalah ketersaingan dari tempat tinggal atau tersingkir dari kehidupan di suatu tempat yang menyebabkan seseorang hidupnya sebatang kara.
c.       Perubahan status.
Perubahan status yang dimaksud dapat disebabkan oleh berbagai macam persoalan, seperti: perceraian, keluar dari sekolah atau perkumpulan dan lain sebagainya.




d.      Kemiskinan.
Seringkali terjadi masyarakat awam yang miskin terpengaruh untuk memeluk agama yang menjanjikan dunia yang lebih baik, seperti kebutuhan sandang dan pangan yang mendesak.[10]
c.    Macam-macam Konversi Agama
1.      Perubahan secara bertahap (Type Valitional)
Yaitu konversi yang terjadi secara berproses, sedikit demi sedikit, hingga kemudian menjadi seperangkat aspek dan kebiasaan rohaniah yang baru. Konversi yang demikian ini sebagian besar terjadi sebagai suatu proses perjuangan batin yang ingin menjauhkan diri dari dosa karena ingin mendatangkan suatu kebenaran. Tipe pertama ini dengan motivasi aktif dari pelaku dan intelektual rasional yang lebih berperan.
2.      Perubahan secara drastis (Type Self Surrender)
  Yaitu konversi yang terjadi secara mendadak. Seseorang tanpa mengalami proses tertentu tiba-tiba berubah pendiriannya terhadap suatu agama yang dianutnya. Perubahan tersebut dapat terjadi dari kondisi tidak taat menjadi taat, dari tidak kuat keimanannya menjadi kuat keimanannya, dari tidak percaya kepada suatu agama menjadi percaya. Pada konversi jenis kedua ini, menurut William James terdapat pengaruh petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap seseorang. Sebab, gejala konversi ini terjadi dengan sendirinya pada diri seseorang sehingga ia menerima kondisi yang baru dengan penyerahan jiwa sepenuhnya. Dengan kata lain, konversi tipe kedua ini merupakan hidayah atau petunjuk dari Tuhan.
Masalah-masalah yang menyangkut terjadinya konversi agama tersebut menurut tinjauan para psikolog adalah berupa pembebasan diri dan tekanan batin.[11]

d.   Proses Konversi Agama
Proses yang dilalui oleh orang-orang yang mengalami konversi, berbeda antara satu dengan lainnya, selain sebab yang mendorongnya dan bermacam pula tingkatnya, ada yang dangkal, sekedar untuk dirinya saja dan ada pula yang mendalam, disertai dengan kegiatan agama yang sangat menonjol sampai kepada perjuangan mati-matian. Ada yang terjadi dalam sekejap mata dan ada pula yang berangsur-angsur. Namun dapat dikatakan, bahwa tiap-tiap konversi agama itu melalui proses-proses jiwa sebagai berikut:
1.      Masa tenang pertama, masa tenang sebelum mengalami konversi, di mana segala sikap, tingkah laku dan sifat-sifatnya acuh tak acuh menentang agama.
2.      Masa ketidaktenangan, konflik dan pertentangan batin berkecamuk dalam hatinya, gelisah, putus asa, tegang, panik. Baik disebabkan oleh moralnya, kekecewaan atau oleh apapun juga.
3.      Peristiwa konversi itu sendiri setelah masa goncang itu mencapai puncaknya, maka terjadilah peristiwa konversi itu sendiri. Orang merasa tiba-tiba mendapat petunjuk Tuhan, mendapatkan kekuatan dan semangat.
4.      Keadaan tentram dan tenang. Setelah krisis konversi lewat dan masa menyerah dilalui, maka timbullah perasaan atau kondisi jiwa yang baru, rasa aman di hati, tiada lagi dosa yang tidak diampuni Tuhan, tiada kesalahan yang patut disesali, semuanya telah lewat, segala persoalan menjadi enteng dan terselesaikan.
5.      Ekspresi konversi dalam hidup. Tingkat terakhir dari konversi itu adalah pengungkapan konversi agama dalam tindak tanduk, kelakuan, sikap dan perkataan, dan seluruh jalan hidupnya berubah mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh agama.[12]
H.Carrier, membagi proses konversi agama dalam pentahapan sebagai berikut:
1. Terjadi disentegrasi sintesis kognitif dan motivasi sebagai akibat dari krisis yang dialami.
2. Reintegrasi kepribadian berdasarkan konversi agama yang baru.
3. Tumbuh sikap menerima konsepsi agama baru serta peranan yang dituntut oleh ajarannya.
4.Timbul kesadaran bahwa keadaan yang baru itu merupakan panggilan suci petunjuk Tuhan.[13]
IV.    KESIMPULAN
Konversi Agama secara etimologi konversi berasal dari kata latin “conversio” yang berarti tobat, pindah, berubah (agama).Sedangkan konversi agama (religious conversion) secara umum dapat di artikan dengan berubah agama ataupun masuk agama. Menurut Thouless (1992), konversi agama adalah istilah yang pada umumnya diberikan untuk proses yang menjurus kepada penerimaan suatu sikap keagamaan, proses itu bisa terjadi secara berangsur-angsur atau secara tiba-tiba.
Konversi agama menyangkut perubahan batin seseorang secara mendasar. Segala bentuk kehidupan batin yang semula mempunyai pola sendiri berdasarkan pandangan hidup yang dianutnya secara spontan ditinggalkan sama sekali. Muncul gejala baru berupa perasaan serba tidak lengkap dan tidak sempurna, perasaan susah yang ditimbulkan oleh kebimbangan.
Perasaan yang berlawanan itu menimbulkan pertentangan dalam batin sehingga untuk mengatasi kesulitan tersebut harus dicari jalan penyalurannya. Ketenangan batin akan terjadi dengan sendirinya bila yang bersangkutan telah mampu mamilih pandangan hidup yang baru dalam kehidupan selanjutnya.
Sebagai hasil dari pemilihannya terhadap pandangan hidup itu maka seseorang tersebut bersedia dan mampu untuk memastikan diri kepada tuntutan-tuntutan dari peraturan-peraturan dalam pandangan hidup yang dipilihnya. Makin kuat keyakinannya terhadap kebenaran pandangan hidup itu akan semakin tinggi pula nilai bakti yag diberikannya.
V.PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan. Kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari kesempurnaan, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Dan akhirnya pemakalah mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan, baik dalam sistematika penulisan, isi dalam pembahasan maupun dalam hal penyampaian materi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang budiman pada umumnya dalam kehidupan ini. Amin……………….




[1] Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 2005, hlm160
[2] Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005, hlm 273
[3] Ibid, hlm 273-274
[4] Sururin, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004, hlm 104
[5] Ibid, hlm 104
[6] Op. Cit, Jalaluddin hlm, 275
[7] Ibid, hlm 275
[8] Op. Cit, Sururin, hlm 106
[9] Op. Cit, Jalaluddin, hlm 275
[10] Op. Cit, Sururin, hlm 107-109
[11] Ibid, hlm 105-106
[12] Op. Cit, Zakiah Daradjat, hlm161-163
[13] Op. Cit, Jalaluddin ,hlm 281